MURATARA | DETAKNWES – Bupati Musi Rawas Utara (Muratara) H. Devi Suhartoni menggelar Jumpa Bersama di kediamannya, Kawasan KBM. Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus dialog dengan jajaran pemerintah dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Sejumlah kepala desa turut hadir dalam kegiatan tersebut tim Iluk mulai dari tingkat Desa hingga Kabupaten. Pada Jumat, 22/8/2025,
Dalam suasana penuh keakraban, Bupati Devi menyampaikan refleksi enam bulan kepemimpinannya pasca dilantik. Ia merasa terharu melihat soliditas jajaran pemerintahan serta konsistensi masyarakat dalam mengawal program pembangunan daerah.
“Alhamdulillah, ternyata ilukers tetap kompak, solid, dan konsisten mendukung program pemerintah daerah,” ungkapnya.
Fokus Pembangunan Infrastruktur
Bupati menegaskan, prioritas pembangunan ke depan adalah infrastruktur jalan. Kecamatan Nibung, Rawas Ulu, dan Ulu Rawas akan menjadi titik fokus. Ia juga menyinggung rencana masuknya layanan DAMRI setelah jalur Tebing Tinggi–SP Kabu selesai diperbaiki, sembari tetap memperhatikan keberlangsungan usaha travel lokal.
Selain itu, ia mendorong generasi muda Muratara untuk aktif menempuh pendidikan tinggi, baik di universitas negeri maupun sekolah kedinasan seperti TNI, STTD darat, dan laut.
Harapan Besar untuk Muratara
Bupati juga menyoroti hadirnya Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) 846 Muratara yang membawa 1.100 prajurit TNI. Kehadiran mereka diyakini akan berdampak positif bagi pertumbuhan daerah.
Lebih jauh, ia optimistis potensi sumber daya alam Muratara akan mendatangkan banyak investor, terutama di sektor batu bara dan minyak. Targetnya, pada 2028 produksi bisa mencapai 25 juta ton per tahun, dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp1,1 triliun.
Meski demikian, Bupati tak menutup mata terhadap tantangan fiskal. Ia menjelaskan, kondisi keuangan daerah mengalami pemangkasan hampir Rp600 miliar akibat kebijakan pemerintah pusat. Dampaknya, beberapa program strategis harus disesuaikan, termasuk bantuan untuk pemuda dan UMKM desa yang semula dijanjikan Rp100 juta per desa, kini hanya dapat direalisasikan Rp30 juta.
“Keterbatasan ini bukan untuk mematahkan semangat, justru menjadi tantangan agar kreativitas pemuda desa tetap tumbuh dan membawa manfaat,” tegasnya. (Habibi)
